Budaya Suku Toraja

Kontributor : Reynaldi Worotikan

Suku Toraja merupakan salah satu suku yang mendiami atau berasal dari pegunungan bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan, suku ini masih memegang erat budaya serta adat istiadat para leluhurnya hingga sekarang, untuk lebih lanjutnya silahkan nonton di video berikut.

Topik Turunan

Sejarah negara Rusia

01:29 Sejarah negara Rusia

Melestarikan Mata Pencaharian Tradisional

05:19 Melestarikan Mata Pencaharian Tradisional

Teknik Lemparan Kedalam

01:58 Teknik Lemparan Kedalam

Pulau seribu

01:12 Pulau seribu

TEKNIK BERNYANYI LAGU TRADISIONAL

06:26 TEKNIK BERNYANYI LAGU TRADISIONAL

Tahapan Produksi Film

00:59 Tahapan Produksi Film

Lomba gerak jalan

01:00 Lomba gerak jalan

Papeda

02:00 Papeda

MAKANAN KHAS PRABUMULIH

01:19 MAKANAN KHAS PRABUMULIH

Mengangkat Kembali Kejayaan Tari Topeng Gunung Sari

05:44 Mengangkat Kembali Kejayaan Tari Topeng Gunung Sari

2 Komentar

  • Eksplorasi kebudayaan Indonesia Hai namaku reynaldi raphael worotikan, kali ini saya akan membahas tema “eksplorasi kebudayaan Indonesia” dan kali ini saya akan mengeksplore kebudayaan dari salah satu suku yang berasal dari Pulau sulawesi, yakni suku Toraja. Suku toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara provinsi Sulawesi Selatan. Suku ini terpusat di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Mamasa. Kebudayaan suku toraja yang populer dimasyarakat adalah adat pemakamannya yang terbilang unik. Kebudayaan yang lain pun tidak kalah menariknya. Karena keunikan tersebutlah Toraja banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pertama, keunikan suku toraja terletak pada bentuk rumah adatnya yang disebut Tongkonan. Keunikannya terletak pada bentuk atapnya yang beberapa orang mengatakan seperti bentuk Perahu, lalu Keunikan selanjutnya terletak pada Hiasan dindingnya yang diukir dan memiliki 4 warna dasar yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Warna hitam melambangkan kematian, warna merah melambangkan kehidupan, warna kuning melambangkan anugerah/ kekuasaan Tuhan, dan warna putih melambangkan kebersihan dan kesucian. Keunikan selanjutnya dari Tongkonan adalah hiasan tanduk kerbau ynag dipasang diseuah tiang yang diletakkan didepan Tongkkonan dan melambangkan kemewahan dan strata sosial. Semakin banyak jumlah tanduk maka semakin tinggi strata sosial keluarga pemilik tongkonan tersebut. Kedua, keunikan suku toraja terletak pada upacara kematian yang biasa disebut Rambu solo’. Melalui upacara inilah bisa disaksikan bahwa masyarakat suku toraja sangat menghormati leluhurnya. Ada beberapa rangkaian acara yang banyak menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara dalam upacara ini, seperti prosesi Ma’palao atau Ma’pasonglo yang merupakan prosesi perarakan jenazah dari area upacara (Tongkonan) ke kompleks pemakaman. Selanjutnya ada pertunjukan beberapa tarian adat seperti Pa’badong, Pa’dondi, dan pa’randing. Setelah itu adala pertunjukan adu kerbau yang biasa disebut Pa’silaga tedong, prosesi terakhir yang banyak menarik perhatian yakni prosesi penyembelihan tedong atau kerbau sebagai hewan kurban, nah tanduk kerbau hasil penyembelihan inilah yang nantinya di tempatkan di depan Tongkonan. Kerbau yang akan disembelih harganya berkisar 20 juta hingga ratusan juta rupiah. Ehh sekedar info nih pada saat penyembelihan kerbau, kerbau disembelih dengan cara menebas leher kerbau... ya ditebas, dan si exekutor dapat dibilang hebat apabila dapat menjatuhkan kerbau hganya denga satu kali tebasan. Next.... upacara ini bersifat wajib bagi keluarga yang ditinggalkan. Akan tetapi, biaya yang diperlukan bagi sebuah keluarga untuk menyelenggarakan ramu solo tidaklah sedikit, berkisar puluhan hingga milyaran rupiah. Oleh karena itu, upacara ini seringkali dilaksanakan beberapa bulan hingga bertahun-tahun setelah meninggalnya seseorang. Ketiga, keunikan suku toraja terletak pada musik dan tari-tariannya yang sangat beragam yang seringkali di tampilkan dalam acara atau upacara rambu tuka dan rambu solo. Tarian toraja yang paling populer adalah tarian Ma’Gellu. Tarian ini ditarikan oleh para remaja putri pada upacara yang bersifat bahagia seperti panen, penyambutan tamu dan Acara perkawinan. Pada tarian ini terselip sebuah kebiasaan yakni Ma’Toding, Ma’toding atau biasaa orang kenal dengan istilah sawer merupakan apresiasi dari penonton kepada para penari karena sudah merasa terhebur dengan tarian tersebut. Tarian selanjutnya yang terkenal yakni Ma’badong, tarian ini merupakan tarian kedukaan. Penari membuat lingkaran dengan pakaian hitam atau bebas. Berbagai jenis langkah dan lagu silih berganti dilatunkan atau dinyanyikan selama pa’badong (penari) belum lelah. Dalam tarian ini, orang bebas masuk dan ikut Ma’Badong baik laki-laki maupun perempuan. Nyanyi-nyanyian yang dilatunkan berisi riwayat hidup orang yang meninggal biasanya bercerita tentang kebaikan almarhum semasa hidupnya.

Masuk dulu sebelum memberi komentar
01:29 Sejarah negara Rusia
Sejarah negara Rusia PenjaskesBud 69 2 Bulan Lalu
5 0 0
05:19 Melestarikan Mata Pencaharian Tradisional
Melestarikan Mata Pencaharian Tradisional PenjaskesBud 99.94 3 Bulan Lalu
84 6 18
01:58 Teknik Lemparan Kedalam
Teknik Lemparan Kedalam PenjaskesBud 89.284 8 Bulan Lalu
4 0 0
01:12 Pulau seribu
Pulau seribu PenjaskesBud 59 2 Bulan Lalu
1 0 0
06:26 TEKNIK BERNYANYI LAGU TRADISIONAL
TEKNIK BERNYANYI LAGU TRADISIONAL PenjaskesBud 89.284 3 Bulan Lalu
7 5 23
00:59 Tahapan Produksi Film
Tahapan Produksi Film PenjaskesBud 69.296 8 Bulan Lalu
41 0 0
01:00 Lomba gerak jalan
Lomba gerak jalan PenjaskesBud 73.3 4 Bulan Lalu
3 0 0
02:00 Papeda
Papeda PenjaskesBud 73 4 Minggu Lalu
5 1 0
01:19 MAKANAN KHAS PRABUMULIH
MAKANAN KHAS PRABUMULIH PenjaskesBud 38.644 6 Bulan Lalu
5 0 0
05:44 Mengangkat Kembali Kejayaan Tari Topeng Gunung Sari
Mengangkat Kembali Kejayaan Tari Topeng Gunung Sari PenjaskesBud 99.94 3 Bulan Lalu
65 1 46